
Penggunaan Gaslighting di Kalangan Anak Muda
Di era media sosial, istilah gaslighting semakin populer di kalangan anak muda. Kata ini muncul di X, TikTok, hingga Instagram, biasanya ketika orang membicarakan hubungan percintaan yang toxic atau pertemanan yang penuh drama. Namun, penggunanya belum tentu tahu apa sebenarnya arti kata gaslighting sehingga penggunaannya tidak selalu merujuk pada konteks serius.
Sering kali, anak muda menggunakan kata gaslighting dalam percakapan santai untuk menyebut perilaku teman yang membalikkan fakta atau bercanda dengan memutarbalikkan cerita. Misalnya, saat seseorang lupa janji lalu berdalih dengan alasan yang tidak masuk akal, langsung muncul komentar, “jangan gaslighting aku deh.” Pemakaian semacam ini menjadikan gaslighting bagian dari bahasa gaul sehari-hari.
Walau begitu, penggunaan istilah yang terlalu longgar kadang bisa membuat maknanya bergeser. Tidak semua perbedaan pendapat atau pembelaan diri bisa disebut gaslighting. Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk memahami bahwa gaslighting sejati jauh lebih serius daripada sekadar bercanda.
Asal Usul dan Arti Kata Gaslighting
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis ketika seseorang membuat orang lain meragukan ingatan, perasaan, atau persepsinya sendiri.

Istilah gaslighting pertama kali dikenal melalui sebuah drama dan film berjudul Gaslight pada era 1940-an. Dalam kisah itu, seorang suami memanipulasi istrinya hingga istrinya percaya bahwa dirinya sedang berhalusinasi. Dari situlah lahir istilah “gaslighting” untuk menggambarkan ketika seseorang membuat orang lain meragukan ingatan, perasaan, atau persepsinya sendiri dengan manipulasi psikis. (Versi film Gaslight 1944 “lebih disukai” karena aktingnya lebih dewasa dan tidak kaku)
Gaslighting bukan hanya sekadar membantah, melainkan upaya sistematis untuk membuat korban merasa bingung, tidak percaya diri, bahkan meragukan kewarasannya sendiri. Inilah yang menjadikan gaslighting dianggap sebagai bentuk kekerasan emosional yang serius.
Contoh Nyata Gaslighting dalam Kehidupan Sehari-hari
Gaslighting bisa muncul dalam berbagai situasi, baik dalam hubungan pribadi maupun sosial. Berikut beberapa contoh yang sering terjadi:
Dalam pertemanan: ketika ada teman yang sering menyalahkan orang lain atas masalah yang sebenarnya ia buat. Misalnya, ia berkata, “kamu lebay banget sih, padahal aku nggak ngomong gitu,” padahal faktanya memang dia yang mengucapkannya. Lama-kelamaan korban bisa merasa dirinya memang terlalu sensitif.
Dalam percintaan: pasangan yang ketahuan selingkuh tetapi berbalik menuduh, “kamu aja yang overthinking, nggak ada apa-apa kok.” Kalimat semacam ini bisa membuat korban meragukan insting dan bukti yang sebenarnya jelas.
Dalam dunia kerja: atasan yang terus-menerus mengkritik dengan mengatakan, “kamu nggak pernah kerja dengan benar,” meskipun kinerja karyawan tersebut sebenarnya baik. Akibatnya, karyawan bisa merasa tidak kompeten padahal sebenarnya ia diperlakukan tidak adil.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa gaslighting bukan sekadar istilah gaul, melainkan masalah serius yang bisa menggerus kepercayaan diri seseorang.
Tips Menghadapi Gaslighting
Menghadapi gaslighting memang tidak mudah, terutama jika datang dari orang terdekat. Namun ada beberapa langkah yang bisa membantu:
Percayai intuisi dan ingatan sendiri. Jika merasa ada yang janggal, catat kejadian atau simpan bukti agar tidak mudah digoyahkan oleh manipulasi orang lain.
Tetapkan batasan yang jelas. Jangan ragu untuk mengatakan “tidak” atau menolak pembicaraan yang membuat Anda merasa direndahkan.
Cari dukungan dari orang terpercaya. Ceritakan pengalaman Anda kepada sahabat, keluarga, atau bahkan konselor agar tidak merasa sendirian menghadapi situasi ini.
Jangan terjebak dalam debat tak berujung. Pelaku gaslighting sering kali memutarbalikkan fakta. Lebih baik hentikan percakapan daripada terus-menerus dibuat bingung.
Pertimbangkan untuk menjauh. Jika gaslighting terjadi berulang kali dan merusak kesehatan mental, langkah terbaik bisa jadi adalah menjaga jarak atau memutuskan hubungan.
Dampak dan Kesadaran Sosial
Gaslighting yang benar-benar terjadi dalam hubungan bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental seseorang. Korban bisa merasa terjebak dalam rasa bersalah, kehilangan rasa percaya diri, dan sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang dimanipulasi. Situasi ini sering membuat korban terikat dalam hubungan toxic tanpa menyadarinya.
Kesadaran tentang gaslighting kini semakin meningkat berkat banyaknya konten edukasi dan diskusi di media sosial. Anak muda mulai lebih peka terhadap tanda-tanda manipulasi emosional. Namun di sisi lain, mereka juga perlu bijak agar tidak sembarangan menuduh seseorang melakukan gaslighting hanya karena berbeda pendapat atau tidak sepaham.
Pada akhirnya, memahami arti kata gaslighting bukan sekadar mengikuti tren bahasa, melainkan cara untuk membangun komunikasi yang sehat. Dengan memahami konsep ini, anak muda bisa lebih menghargai perasaan orang lain sekaligus melindungi diri dari manipulasi yang merugikan.
