Kritik kepada Konten Kreator ‘Latah’ AI: Ketika Manusia Kehilangan Kemanusiaannya

Stop AI video narator

Di era digital ini, banyak orang membuat konten dengan sepenuhnya mengandalkan AI. Cukup unggah foto, beri skrip, ketik prompt—lantas dalam sekejap terciptalah video yang berbicara lancar dengan intonasi sempurna. Namun, bagi yang jeli, selalu ada yang terasa mengganjal. Rasanya tidak manusiawi. Intonasinya terlalu lancar, terlalu mulus, hingga terasa seperti robot yang sedang berpidato.

Ada hal mendasar yang luput dipahami para konten kreator “latah AI” ini. Mereka lupa bahwa justru dalam ketidaksempurnaan terdapat daya pikat manusiawi yang tak tergantikan. Irama napas di sela bicara yang tak terencana menciptakan kesan natural yang menenangkan. Kata-kata tak terduga seperti “ee” atau “anu” justru menunjukkan proses berpikir yang otentik dan sedang berlangsung. Bahkan variasi nada yang kadang mengalami “kecelakaan intonasi” justru mampu menggugah perhatian pendengar secara lebih dalam.

Kita, sebagai manusia, sejatinya merindukan keaslian. Bukan kesempurnaan artifisial. Kita rindu pada emosi yang asli, ekspresi yang asli, tatapan yang asli, bahkan batuk yang asli, tersedak yang asli, dan gumaman yang asli. Kita ingin menyaksikan manusia yang tetap “manusia”—yang tidak sempurna, namun tulus dalam upayanya mengejar makna dan berbagi kebenaran.

Yang lebih memprihatinkan, fenomena ini telah menjalar ke ranah agama. Kini kita melihat “ustadz-ustadz AI” berseliweran di media sosial. Pertanyaan mendasarnya: bagaimana mungkin mereka menyampaikan ‘kebenaran’ dengan cara yang palsu? Padahal, agama berdiri di atas otoritas dalil, kekuatan sanad, dan kedalaman keilmuan—bukan sekadar retorika kosong yang dibungkus otomatisasi AI.

Bukankah dengan membagikan video AI versi diri sendiri, seseorang sedang mengorkestrasikan kepalsuan? Apakah itu benar-benar representasi dirinya? Jika iya, maka suatu hari nanti jika ada video AI versi dirinya sedang berjoget di atas wajan, harusnya juga dianggap asli. Bagaimana mungkin seseorang rela membuat deepfake dirinya sendiri? Inikah bentuk fitnah di akhir zaman?

Inilah paradoks zaman kita: berbagi kebenaran dengan wajah insekyur, ditutupi topeng ‘kesempurnaan’ digital. Ketika gestur, ekspresi, dan suara bukan lagi milik mereka sendiri, apa yang tersisa kecuali pertunjukan wayang digital yang telah kehilangan jiwanya? Kita perlu bertanya: sampai sejauh mana teknologi boleh menggerus kemanusiaan kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *